Kenapa Aku Sering Salah Pilih Lensa Saat Memotret Jalanan

Kenapa Aku Sering Salah Pilih Lensa Saat Memotret Jalanan

Aku sering ditanya oleh fotografer jalanan pemula: “Kenapa foto saya tidak seperti yang aku bayangkan padahal setting kamera sudah pas?” Jawabannya sering bukan soal exposure semata, melainkan lensa yang dipilih sebelum menekan shutter. Setelah lebih dari satu dekade memotret di berbagai kota — dari gang sempit Yogyakarta hingga boulevard sibuk di Manila — aku sadar ada pola kesalahan yang berulang. Artikel ini bukan hanya daftar rekomendasi lensa, melainkan panduan untuk memahami mengapa kita salah pilih, dan bagaimana memperbaikinya secara praktis.

Kesalahan Umum dalam Memilih Lensa

Kesalahan pertama: memilih lensa karena “narsis” atau karena tren, bukan karena kebutuhan visual. Banyak yang membeli lensa f/1.4 karena ingin bokeh creamy, padahal subjek bergerak cepat dalam kerumunan — depth of field tipis malah membuat fokus sering meleset. Kesalahan kedua: bingung antara wide dan normal. Aku dulu sering menggunakan 24mm saat ingin “menangkap suasana” tapi berakhir dengan distorsi wajah dan perspektif yang berlebihan, membuat foto terasa canggung. Ketiga: mengabaikan jarak kerja. Dalam satu proyek malam hari di stasiun kereta, aku memakai 35mm prime dan merasa “terlalu dekat” dengan subjek sehingga candid jadi sulit — seharusnya aku gunakan 50–85mm tergantung keterbatasan ruang.

Pertimbangan Praktis: Focal Length, Aperture, dan Mobilitas

Dalam praktik, ada beberapa parameter yang selalu aku cek sebelum keluar rumah. Pertama, focal length. Untuk street photography aku cenderung memilih 28–50mm pada full-frame; 35mm memberi keseimbangan antara konteks dan intimasi, sementara 50mm cocok ketika ingin sedikit memisahkan subjek dari latar. Telefoto (85–200mm) berguna untuk candid jarak jauh dan memampatkan latar, namun membahayakan mobilitas dan mencolok di keramaian.

Kedua, aperture. Di siang hari f/2.8–f/5.6 sering cukup untuk mendapatkan ketajaman luas, sedangkan di malam hari lensa cepat (f/1.4–f/2) membantu menjaga ISO rendah. Tapi ingat: lensa cepat memerlukan fokus presisi — di situ pengalaman dan teknik fokus zona atau pre-focus jadi penolong. Ketiga, ukuran dan berat. Aku pernah meninggalkan prime favorit di rumah karena jalan kaki seharian; akhirnya menggunakan zoom 24–70 f/2.8 yang lebih serbaguna. Keputusan untuk membawa dua kamera (satu tele, satu wide) kadang menyelesaikan masalah, tapi itu memerlukan stamina dan kebiasaan.

Studi Kasus: Proyek Jalanan yang Mengajariku

Ada satu proyek dokumenter malam di pasar yang mengubah pendekatanku. Awalnya aku membawa 35mm f/1.8 untuk menangkap suasana pasar. Namun, kerumunan padat membuatku tak bisa bergerak bebas. Aku kehilangan momen karena harus terlalu dekat. Aku kembali ke mobil, mengganti dengan 50mm dan 85mm. Hasilnya? Foto lebih terisolasi, ekspresi subjek terekam natural, dan komposisi lebih terkontrol. Pelajaran: bukan lensa “lebih lebar selalu lebih baik”; sesuaikan dengan dinamika lokasi.

Di lain waktu, untuk seri arsitektur jalanan, aku memilih 24–70 f/2.8 karena fleksibilitas framing. Zoom menyelamatkanku saat elemen yang ingin kubingkai berubah cepat. Pengalaman ini mengajari aku bahwa lensa bukan hanya soal karakter optik, tetapi juga soal workflow dan adaptasi cepat.

Cara Menghindari Kesalahan: Checklist dan Latihan

Praktik yang menolongku mengurangi salah pilih lensa: buat checklist singkat sebelum keluar rumah. Tanyakan pada diri sendiri: (1) Apa jarak rata-rata ke subjek? (2) Seberapa gelap lokasi? (3) Perlukah aku blending atau tetap jauh? (4) Berapa lama aku akan jalan kaki? Jawabannya langsung menunjuk lensa yang paling rasional. Latihan lain: batasi diri selama seminggu hanya dengan satu lensa — pengalaman ini memaksa kreativitas dan cepat mengajari kekuatan dan keterbatasan lensa itu.

Terakhir, jangan anggap remeh kesehatan mata. Ketajaman visual dan kecepatan reflek mata-memegang-kamera penting. Jika matamu sering lelah saat menilai fokus, cek mata rutin — misalnya di eyecarecliniclb — agar keputusan komposisi dan fokus lebih konsisten.

Kesimpulannya: salah pilih lensa seringkali bukan soal salah teknis, melainkan kurangnya kecocokan antara tujuan visual dan kondisi nyata. Jadikan memilih lensa kebiasaan reflektif: evaluasi lokasi, subjek, dan mobilitas. Latihan, pengalaman proyek konkret, dan sedikit disiplin sebelum berangkat akan menghemat waktu dan foto yang terbuang. Itu yang aku pelajari setelah bertahun-tahun — dan itu juga yang akan aku bagikan pada siapa pun yang serius ingin meningkatkan fotografi jalanannya.